Wednesday, 21 May 2008

Bahaya Syubhat & Syahwat

MEWASPADAI BAHAYA SYAHWAT DAN SYUBHAT

 Sungguh umat ini akan ditimpa dengan berbagai macam fitnah. Dan fitnah yang akan menimpa umat ini ada dua, yaitu fitnah syahwat dan fitnah syubhat. Rosululloh shollallohualaihiwasallam telah mengkhawatirkan fitnah kesesatan syahwat dan syubhat terhadap umatnya, sebagaimana yang telah disabdakan beliau yang artinyaSesungguhnya diantara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti hawa nafsu pada perut kamu dan kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan (Shohih, HR Ahmad)

Sebab Munculnya Syubhat dan Syahwat

Kalau dirunut kebodohan merupakan sumber segala kerusakan yang ada. Banyak para pemuda Islam yang tertimpa penyakit yang satu ini yaitu kebodohan terhadap agama mereka. Salah satu dampak yang di timbulkan oleh kebodohan ini adalah munculnya penyakit syahwat dan syubhat pada pemuda Islam. Oleh karena itu dibutuhkan cara untuk menghadapi penyakit tersebut dan menghilangkannya dari dada-dada kaum muslimin.

Sebab munculnya syahwat adalah cinta terhadap dunia dan tidak tahu bahwasanya akhirat lebih mulia dari pada dunia ini. Sebagaimana yang digambarkan oleh Rosululloh shollallohualihi wasallam didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh rodiyallohuanhu, yang artinya "Dua perkara yang senantiasa membuat hati seorang tua awet muda, cinta dunia dan panjang angan-angan."

Nasehat syaikh Muhammad bin Sholih Al- 'Utsaimin rohimahulloh

 Orang yang tidak tidak mengenal kemuliaan akhirat dan malas beribadah akan menganggap dunia sebagai negeri yang senantiasa ia tempati. Ia selalu merasa kurang terhadap apa yang dimilikinya, tanpa pernah merasa cukup mengejar dunia hingga segala keinginannya terpenuhi. Padahal semua itu tidak akan memberi kepuasan bagi mereka, bahkan mampu membawa kesengsaraan. Seharusnya dia menyadari bahwa sebentar lagi kematian akan menghampirinya. Adapun orang yang mendapat taufik, dia menyadari bahwa dunia dan segala keindahannya itu hanyalah tipuan belaka, sehingga dia tidak terperdaya bahkan sebaliknya akan bergegas menuju ampunan Alloh serta surga yang seluas langit dan bumi, yang dipersiapkan bagi orang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya. (Majaalis Syahri Ramadhan, Syaikh Muhammad bin Sholih al 'Utsaimin)    Fitnah syahwat yang terbesar

Rosululloh shollallohualaihiwasallam telah memperingatkan bahaya fitnah wanita ini kepada umatnya dan ini merupakan bukti bahwasanya Rosululloh shollallohualaihiwasallam telah menyampaikan risalah dari Alloh subhanahuwata’ala yaitu dengan menjelaskan segala sesuatu yang bermanfaat dan mendatangkan kebaikan bagi umatnya, sehingga tidak ada satu kebaikanpun yang tidak disampaikan oleh Rosululloh shollallohualaihiwasallam kepada umatnya dan tidak ada satu kejelekanpun yang akan menimpa umat ini kecuali telah diperingatkan oleh beliau agar kita menjauhinya. Salah satu fitnah syahwat yang membahayakan adalah fitnah wanita yang merupakan fitnah pertama dan terbesar bagi kaum muslimin khususnya bagi para pemuda islam. Rosululloh shollallohualaihiwasallam memperingatkan dari bahaya fitnah wanita, sebagaimana sabda beliau yang artinya Tidakkah aku meninggalkan fitnah, setelah aku(wafat), yang lebih berbahaya terhadap laki-laki daripada wanita” (HR Bukhori dan Muslim)

Dampak mengikuti seruan syahwat

  Syaikh Muhammad bin Sholih al-'Utsaimin rohimahulloh memberikan penjelasan  untuk kita semua tentang akibat mengikuti seruan syahwat. Beliau berkata bahwa terus menerus melakukan maksiat akan mengakibatkan kerasnya hati, jauh dari Alloh subhanahuwata'ala, dan lemahnya iman. Sebab, iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Terus menerus melakukan maksiat juga akan mengakibatkan maksiat tersebut menjadi suatu kebiasaan sekaligus tempat bergantung bagi pelakunya. Sungguh, jika jiwa itu terbiasa dengan suatu hal maka ia akan sulit untuk berpisah dengannya. Jika ini telah terjadi, pelaku maksiat akan sulit melepaskan diri dari maksiatnya, dan syaithan akan membukakan untuknya pintu-pintu kemaksiatan lainnya yang lebih besar dan lebih dahsyat dari sebelumnya. Oleh sebab itu, ahli ilmu dan ahli akhlak berkata: "Sesungguhnya kemaksiatan adalah pengantar kekafiran, di mana seseorang akan berpindah-pindah dari satu maksiat kepada maksiat lainnya, setahap demi setahap sampai ia berpaling dari agamanya." Semoga Alloh subhanahu wa ta'ala memberikan taufik dan keselamatan kepada kita semua. (Majaalis syahri Ramadhan)

Penyebar syubhat pada kaum muslimin

Kaum munafiqin merupakan penyebar syubhat terbesar bagi kaum muslimin. Kaum muslimin terus menerus merasakan kepedihan dan musibah akibat dari perbuatan mereka. Kaum munafiqin terus menerus melemparkan syubhat-syubhat ke tubuh kaum muslimin sedikit demi sedikit  sehingga tidaklah heran jika pada masa sekarang banyak pemikiran-pemikiran yang menyesatkan dan menggelincirkan kaum muslimin. Mereka berpaling dari al Qur’an dan as Sunnah dan mengolok-olok orang yang berpegang teguh dengan keduanya. Alloh subhanahuwata'ala berfirman, yang artinya Alloh akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.”(al Baqoroh: 15).

Diantara ciri kaum munafiq ialah tidak mau beriman sebagaimana keimanan para sahabat dan mencela salafush sholeh bahkan mereka mengatakanAkankah kami beriman sebagaimana keimanan orang-orang yang bodoh itu?’. Orang-orang munafiq ini menuduh para sahabat sebagai orang-orang yang bodoh. Namun Alloh Ta’ala membuka kedok mereka bahwa sebenarnya merekalah orang-orang yang bodoh, Alloh berfirman, Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang bodoh, akan tetapi mereka tidak mengetahui(Al Baqoroh : ). Mereka mencela cara para sahabat dalam beragama, mereka menganggap para sahabat itu tidak berilmu padahal mereka itulah yang tidak berilmu. 

Cara menghadapi fitnah syahwat dan syubhat

Fitnah syubhat dapat dihadapi dengan ilmu. Sebagaimana perkataan Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh :Seseorang yang kokoh dalam ilmu jika datang syubhat-syubhat kepadanya sebanyak ombak lautan tidak akan menggoyahkan keyakinannya, dan sama sekali tidak menimbulkan keraguan sedikitpun pada hatinya. Karena jika seseorang telah kokoh dalam ilmu maka tidak akan digoyahkan oleh syubhat, bahkan jika datang syubhat kapadanya akan ditolak oleh penjaga ilmu dan pasukannya sehingga syubhat tersebut akan kalah dan terbelenggu”. (Miftah Daris Sa’adah).

Sedangkan fitnah syahwat dapat diredam dengan takwa, oleh karena itu Alloh subhanahuwata'ala berfirman yang artinya Sesungguhnya yang takut kepada Alloh adalah ulama’.”. para ulamadengan bekal ilmu yang mereka warisi dari para Nabi dapat mencapai tingkat takwa yang paling tinggi yaitu khosyatulloh (takut kepada Alloh). Oleh karena itu, kita meminta kepada Alloh subhanahuwata'ala agar diberikan ilmu yang bermanfaat dan amal yang sholih, agar diberikan rasa takut yang rasa takut tersebut dapat menghalangi kita dari berbuat maksiat kepadanya. [Didik Abul Abbas]

                            

Monday, 12 May 2008

Desyanto DR ST MT

Hmmm...
Lama ga posting...
belum sempet posting neh...
Tunggu aja yah...

Eits,.. Dari pada ga posting..
aku kasih deh...

Desyanto Dwi Rahmadi ST MT
ST Aku peroleh dari Teknik Elektro UNDIP
MT Aku peroleh dari UGM (baca Universitas Gaya Motor, alamatnya Astra)

Hohoho...
Gitu aja yach...

Saturday, 02 February 2008

Hakikat Tauhid

Hakekat dan Kedudukan Tauhid

 Tauhid merupakan kewajiban utama dan pertama yang diperintahkan Alloh kepada setiap hamba-Nya. Namun, sangat disayangkan kebanyakan kaum muslimin pada zaman sekarang ini tidak mengerti hakekat dan kedudukan tauhid. Padahal tauhid inilah yang merupakan dasar agama kita yang mulia ini. Oleh karena itu sangatlah urgen bagi kita kaum muslimin untuk mengerti hakekat dan kedudukan tauhid. Hakekat tauhid adalah mengesakan Alloh. Bentuk pengesaan ini terbagi menjadi tiga yakni

Mengesakan Alloh dalam Rububiyah-Nya,

 Maksudnya adalah kita meyakini keesaan Alloh dalam perbuatan-perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh Alloh,tanpa bantuan siapapun, seperti mencipta dan mengatur seluruh alam semesta beserta isinya, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat dan lainnya yang merupakan kekhususan bagi Alloh. Hal yang seperti ini diakui oleh seluruh manusia, tidak ada seorangpun yang mengingkarinya. Orang-orang yang mengingkari hal ini, seperti kaum komunis, pada kenyataannya mereka menampakkan keingkarannya hanya karena kesombongan mereka. Padahal, jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka mengakui bahwa tidaklah alam semesta ini terjadi kecuali ada yang membuat dan mengaturnya. Mereka hanyalah membohongi kata hati mereka sendiri. Hal ini sebagaimana firman Alloh "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan ? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)" (Ath-Thur: 35-36).

 Namun pengakuan seseorang terhadap tauhid rububiyah ini tidaklah menjadikan seseorang beragama Islam karena sesungguhnya orang-orang musyrikin Quraisy yang diperangi Rosululloh mengakui dan meyakini jenis tauhid ini. Sebagaimana firman Alloh "Katakanlah: "Siapakah Yang memiliki langit yang tujuh dan Yang memiliki 'Arsy yang besar?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Alloh." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?" Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari -Nya, jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Alloh." Katakanlah: ", maka dari jalan manakah kamu ditipu?" (Al-Mu'minun : 86-89). Dan yang amat sangat menyedihkan adalah kebanyakan kaum muslimin di zaman sekarang menganggap bahwa seseorang sudah dikatakan beragama Islam jika telah memiliki keyakinan seperti ini. Wallohul musta'an.

Mengesakan Alloh dalam Uluhiyah-Nya,

 Maksudnya adalah kita mengesakan Alloh dalam segala macam ibadah yang kita lakukan. Seperti shalat, doa, nadzar, menyembelih, tawakkal, taubat, harap, cinta, takut dan berbagai macam ibadah lainnya. Dimana kita harus memaksudkan tujuan dari kesemua ibadah itu hanya kepada Alloh semata. Tauhid inilah yang merupakan inti dakwah para rosul dan merupakan tauhid yang diingkari oleh kaum musyrikin Quraisy. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Alloh mengenai perkataan mereka itu "Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu Sesembahan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan."(Shaad:5). Dalam ayat ini kaum musyrikin Quraisy mengingkari jika tujuan dari berbagai macam ibadah hanya ditujukan untuk Alloh semata. Oleh karena pengingkaran inilah maka mereka dikafirkan oleh Alloh dan Rosul-Nya walaupun mereka mengakui bahwa Alloh adalah satu-satunya Pencipta alam semesta.

//Orang kafir Quraysy meyakini bahwa yang menciptakan langit & bumi adalah Alloh, tapi mereka tidak mau beribadah kepada Alloh. Mereka hanya beribadah kepada Alloh & meninggalkan berhala-berhala jika mereka sedang dalam kesempitan/kesulitan.

Mengesakan Alloh dalam Nama dan Sifat-Nya,

 Maksudnya adalah kita beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang diterangkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rosululloh, tanpa menakwilkan/mengkiaskan,merubah arti yang sesungguhnya. Dan kita juga meyakini bahwa hanya Alloh-lah yang pantas untuk memiliki nama-nama terindah yang disebutkan di Al-Qur'an dan Hadits tersebut (yang dikenal dengan Asmaul Husna). Sebagaimana firman-Nya "Dialah Alloh Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, hanya bagi Dialah Asmaaul Husna." (Al-Hasyr : 24).

Seseorang baru dapat dikatakan seorang muslim yang tulen jika telah mengesakan Alloh dan tidak berbuat syirik dalam ketiga hal tersebut di atas. Barangsiapa yang menyekutukan Alloh (berbuat syirik) dalam salah satu saja dari ketiga hal tersebut, maka dia bukan muslim tulen tetapi dia adalah seorang musyrik.

Kedudukan Tauhid

Tauhid memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama ini. Pada kesempatan kali ini kami akan membawakan tentang kedudukan tauhid uluhiyah (ibadah), karena hal inilah yang banyak sekali dilanggar oleh mereka-mereka yang mengaku diri mereka sebagai seorang muslim namun pada kenyataannya mereka menujukan sebagian bentuk ibadah mereka kepada selain Alloh, baik itu kepada wali, orang shaleh, nabi, malaikat, jin dan sebagainya.

//Oleh karena itu, kunci surga adalah Laa ilaa ha illalloh, yaitu yakin dengan sepenuh hati bahwa Allohlah yang berhak disembah, bukan yang lain. Alloh lah tempat kita memohon, bukan yang lainnya...

Tauhid Adalah Tujuan Penciptaan Manusia

Alloh berfirman, "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku."(Adz-Dzariyat :56) maksud dari kata menyembah di ayat ini adalah mentauhidkan Alloh dalam segala macam bentuk ibadah sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu, seorang sahabat ahli tafsir. Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Alloh saja. Tidaklah mereka diciptakan untuk menghabiskan waktu kalian untuk bermain-main dan bersenang-senang belaka. Sebagaimana firman Alloh  Dan tidaklah Kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan, tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian." (Al Anbiya 16-17). "Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main , dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (Al-Mu'minun :115)

Tauhid Adalah Tujuan Diutusnya Para Rosul

Alloh berfirman, "Dan sungguh Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : "Sembahlah Alloh , dan jauhilah Thaghut itu" (An-Nahl :36). Makna dari ayat ini adalah bahwa para Rosul mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi terakhir Nabi kita Muhammad shollallohu alaihi wa sallam diutus oleh Alloh untuk mengajak kaumnya untuk beribadah hanya kepada Alloh semata dan tidak memepersekutukanNya dengan sesuatu apapun. Maka pertanyaan bagi kita sekarang adalah "Sudahkah kita memenuhi seruan Rosul kita Muhammad shollallohu alaihi wa sallam untuk beribadah hanya kepada Alloh semata? ataukah kita bersikap acuh tak acuh terhadap seruan Rosululloh ini? ". Tanyakanlah hal ini pada masing-masing kita dan jujurlah.

Tauhid merupakan perintah Alloh yang paling utama dan pertama

Alloh berfirman, "Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh , dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri" (An-Nisa :36). Dalam ayat ini Alloh menyebutkan hal-hal yang Dia perintahkan. Dan hal pertama yang Dia perintahkan adalah untuk menyembahNya dan tidak menyekutukanNya. Perintah ini didahulukan daripada berbuat baik kepada orang tua serta manusia-manusia pada umumnya. Maka sangatlah aneh jika seseorang bersikap sangat baik terhadap sesama manusia, namun dia banyak menyepelekan hak-hak Tuhannya terutama hak beribadah hanya kepada Alloh semata.

Itulah hakekat dan kedudukan tauhid di agama kita, dan setelah kita mengetahui besarnya hal ini akankah kita tetap bersikap acuh tak acuh untuk mempelajarinya? [Abu Uzair Boris Tanesia]

Kiamat

KIAMAT

Hari kiamat ialah hari yang dahsyatnya luar biasa. Alloh banyak menjelaskan dalam kitab-Nya tentang kengerian yang terjadi di hari tersebut, mulai dari digulungnya matahari, jatuhnya bintang-bintang, hancurnya gunung-gunung, bergoncangnya bumi serta sederet peristiwa mahadahsyat yang lain. Bencana tsunami yang menimpa Aceh beberapa waktu lalu amat dahsyat, dan ketahuilah sungguh kiamat besar besok jauh lebih dahsyat lagi. Alloh berfirman, "Dan apabila lautan dijadikan meluap". Dan sudah seharusnya bagi kita memetik pelajaran berharga untuk bertobat dari berbagai macam kesyirikan, kebid'ahan dan kemaksiatan yang selama ini kita lakukan.

Hanya Alloh sajalah yang tahu kapankah hari kiamat, bahkan Rosul-Nya dan malaikat-Nya yang paling mulia pun tidak mengetahui waktunya.

Tanda hari kiamat

 Tanda-tanda munculnya hari kiamat amat banyak, baik yang sudah terjadi, sedang terjadi ataupun belum terjadi. Diantaranya yaitu diutusnya Muhammad rosululloh dan wafatnya beliau. Begitu pula munculnya orang-orang bodoh yang justeru ditokohkan dan jadi panutan, orang-orang berlomba-lomba untuk memegahkan bangunan masjid. Di samping itu akan muncul tanda-tanda besar seperti Mahdi, Dajjal, turunnya Nabi Isa serta Ya'juj dan  Ma'juj.  

 Dajjal ialah seorang pembohong besar yang akan keluar di akhir zaman yang mengaku sebagai tuhan. Ia dinamai Al Masih karena menjelajah seluruh dunia bagaikan hujan yang terbawa angin kecuali terhalang masuk Makkah dan Madinah. Dajjal seorang yang buta sebelah dan tertulis diantara kedua matanya 'kaf fa ro' yang hanya dapat dibaca oleh orang mukmin. Dajjal hidup selama 40 hari; sehari seperti setahun, sehari seperti sebulan, sehari seperti sepekan dan sisanya seperti hari biasa. Fitnahnya sangat besar diantaranya memerintahkan langit untuk turunkan hujan dan turunlah, memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman dan tumbuhlah. Kemunculannya telah ditegaskan oleh Sunnah dan ijma'. Dajjal ini kelak akan dibunuh oleh Nabi Isa. Nabi Isa ini wafat dan disholatkan kaum muslimin. (Lihat keterangan lebih panjang dalam Syarah Lum'atul I'tiqod Syaikh Ibnu Utsaimin atau huru hara hari kiamat karangan ibnu katsir)

Beriman kepada fitnah kubur, siksa dan nikmat kubur.

Fitnah kubur yaitu pertanyaan kubur yang akan diajukan kepada orang mati setelah dikubur, yaitu "Siapakah Robbmu, nabimu dan apa agamamu" Alloh akan meneguhkan orang mukmin dengan ucapan yang benar dan lancar : "Robbku Alloh, agamaku Islam dan Nabiku Muhammad". Adapun orang yang ragu atau munafik maka ia mengatakan : "ha.. ha.. saya tidak tahu, aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu maka aku tiru". (syarah Al Wajibat) Ini menunjukkan bahwa pertanyaan tersebut tidak akan semudah dijawab dengan hanya dihafal di dunia. Sungguh orang munafik yang hafal dan paham maknanya di dunia tetap saja tidak akan mampu menjawabnya. Dan jawaban seorang hamba tidak akan terlepas bagaimanakah keilmuannya terhadap jawaban tersebut dan amalnya ketika di dunia.

Seluruh manusia pada hari itu dibangkitkan dari kubur dan dikumpulkan

Termasuk dalam unsur iman kepada hari akhir yaitu beriman kepada kebangkitan, yaitu dihidupkannya orang yang telah mati tatkala ditiup sangkakala untuk yang kedua kalinya. Manusia kala itu dikumpulkan dalam keadaan tak beralas kaki, telanjang dan tidak berkhitan, namun urusan manusia tatkala itu amat berat sehingga mereka tidak sempat memperhatikan aurat orang lain. Alloh Ta'ala berfirman, "Kemudian setelah itu kamu sekalian benar-benar akan mati, lalu kamu sekalian benar-benar akan dibangkitkan di hari kiamat" (Al Mu'minun : 15-16). Dan firman-Nya, "Katakanlah: "Sesunguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang sesudahnya benar-benar akan dikumpulkan pada suatu waktu yang dikenal." (Al Waqi'ah : 49-50). Rosululloh bersabda, "Sungguh kalian semua akan dikumpulkan dalam keadaan tak beralas kaki, telanjang dan tidak bersunat…" (HR. Bukhori, Muslim).

Dihisabnya amal dan diganjar

Seorang hamba akan dihisab atas amal perbuatannya dan diganjar sesuai dengan amalnya tersebut. Alloh Ta'ala berfirman, "Kemudian kewajiban Kamilah menghisab mereka" (Al Ghosyiyah : 26). Alloh juga berfirman, "Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)." (Al An'am : 160).

Umat Muhammad sholallohu 'alaihi wa sallam adalah ummat yang pertama kali dihisab. Amal hamba yang pertama kali dihisab berkaitan dengan hak Alloh adalah sholat, sedangkan yang berhubungan dengan hak manusia adalah masalah pembunuhan. Seorang mu'min yang dihisab maka Alloh memperlihatkan kepadanya amal-amalnya kemudian ia mengakui dan merasa akan binasa, lalu Alloh berfirman kepadanya, "Aku telah menutupi dosa-dosamu itu ketika di dunia dan pada hari ini Aku mengampuninya" kemudian diberikan kepadanya catatan-catatan kebaikannya. Adapun orang-orang kafir dan munafik maka diserukan kepada seluruh makhluk bahwa inilah orang-orang yang mendustakan Robb mereka, ketahuilah bahwa laknat Alloh diberikan untuk orang-orang yang berbuat zholim.

Amal manusia ditimbang dengan timbangan pada hari kiamat. Timbangan ini adalah timbangan hakiki yang memiliki dua daun timbangan. Alloh berfirman, "Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam." (Al Mu'minun : 102-103).

Surga dan Neraka

Mengimani adanya Surga dan Neraka termasuk rangkaian iman kepada hari kiamat. Keduanya adalah kampung abadi bagi para makhluk. Surga adalah negeri yang penuh kenikmatan yang telah disediakan untuk orang-orang yang beriman bertakwa, taat, ikhlas pada Alloh serta taat pada Rosul-Nya. Kenikmatan dalam surga begitu besarnya, tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga dan tak pernah terlintas dalam benak manusia. Alloh berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Alloh ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya." (Al Bayyinah : 7-8).

Adapun neraka adalah negeri yang penuh dengan kesengsaraan dan berbagai adzab yang telah Alloh sediakan untuk orang-orang kafir dan zholim, yang mereka kufur kepada Robbnya dan mendustakan Rosul-Nya. Di dalam neraka terdapat berbagai macam adzab yang tidak pernah terlintas dalam hati. Alloh berfirman, "Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zhalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (Al Kahfi : 29)

Setelah masuknya penduduk surga yang terakhir ke dalam surga, 'kematian' diwujudkan dalam bentuk domba, kemudian domba itu disembelih (HR. Bukhori). Artinya tidak ada lagi kematian sejak saat itu, maka kekallah penduduk surga di surga dan penduduk neraka di neraka selama-lamanya.

(Syarah Tsalatsatu Ushul, Ibnu Utsaimin). Wallohu a'lam [Abu Yusuf Johan]

Emansipasi

Emansipasi Wanita

 Sungguh merupakan musibah besar yang melanda umat Islam tatkala kaum muslimah keluar dari rumahnya dalam keadaan berpakaian tetapi telanjang. Padahal Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa perempuan-perempuan semacam itu tidak akan mencium bau surga. Beliau bersabda, "

Ada

dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya…(salah satunya) para wanita yang berpakaian tapi telanjang dan berlenggak-lenggok. Rambut kepala mereka seperti punuk unta, mereka itu tidak akan mendapatkan baunya surga padahal bau surga itu bisa tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian."(HR.Muslim). Saudariku, kalau engkau masih mau mendengar nasihat Nabimu maka kenakanlah jilbabmu dengan benar!!.

Mengekor barat

 Nabi telah memperingatkan bahwa akan ada diantara umat ini yang mengikuti budaya orang-orang terdahulu dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Imam Bukhori telah mencatat sabda Beliau, "Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti

gaya

hidup orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sampai-sampai seandainya mereka masuk ke dalam lubang dhobb (sejenis biawak) niscaya ada di antara kalian yang ikut masuk pula ke dalamnya."

 Lihatlah wanita-wanita muslimah di sekeliling kita, bukankah selama ini sebagian besar dari mereka menjadi korban budaya barat yang kafir itu?. Hampir segalanya mereka tiru; mulai dari cara berpakaian, cara berinteraksi dengan lawan jenis, bahkan sampai pola pikir yang hedonis (mencari kesenangan dunia semata) dan ujung akhirnya mereka turut bercampur baur dengan kaum lelaki di kantor-kantor, di parlemen dan restoran-restoran. Kini terbuktilah perkataan Nabi yang mulia, dan sungguh sangat ironi tatkala mereka melakukan ini semua dengan bertameng emansipasi yang digembor-gemborkan oleh barat.

Ikutilah jejak ibunda

 Andaikata apa yang kalian lakukan ini dengan bercampur baur bersama kaum pria di pemerintahan, di kantor-kantor adalah kemaslahatan untuk kaum muslimah tentulah para isteri Nabi dahulu adalah orang pertama yang melakukan perbuatan sebagaimana yang kalian lakukan sekarang ini? Lalu mengapa kalian melakukan apa yang tidak mereka lakukan? Apakah kalian merasa lebih cerdas dari ibunda 'Aisyah yang menyadari kesalahannya tatkala berani memimpin pasukan ketika terjadi perang Jamal?. Beliau benar-benar menyesal karena melalaikan sebuah sabda Rosululloh, "Tidak akan pernah beruntung kaum manapun yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan" (HR. Bukhori). Cobalah bandingkan dengan sebagian kaum muslimah dewasa ini yang dengan bangga memamerkan auratnya di layar kaca yang ditonton oleh ribuan pasang mata! Atau mereka yang dengan berapi-api berteriak-teriak berdemo di jalan-jalan dengan dalih untuk membela hak kaum muslimin, dan lebih lucunya lagi berdalil dengan perbuatan Aisyah yang telah disesali tersebut. Atau mereka yang berkoar-koar di atas mimbar demi mendapatkan kursi DPR serta rela bercampur baur dengan lelaki yang bukan mahromnya. Allohu akbar!!, hanya kepada-Nya lah kami mohon pertolongan.

Kembalilah ke istanamu

 Seorang muslimah yang sholihah yang senantiasa menjaga dirinya, memiliki rasa malu dan memelihara kehormatannya itulah yang dipuji oleh syari'at. Dengan aktivitasnya mengurus rumah dan membekali dirinya dengan ilmu syar'i atau mendidik anak-anak maka dengan demikian ia telah turut serta berusaha mewujudkan masyarakat islami. Melalui tangan-tangan dan didikan merekalah akan terlahir pemuda-pemudi yang berbakti kepada Alloh dan Rosul-Nya. Namun sayang sekali betapa sedikitnya wanita semacam ini. [Ari Abu Mushlih]           

Tuesday, 29 January 2008

Masalah seputar Dakwah

                                                                  Salah Satu Syubhat Seputar Dakwah dan Jawabannya

                     

                                            Pertanyaan kepada Syaikh Abul Hasan                       Mushthafa bin Ismail As-Sulaimani, dalam Silsilah Fatawa                       Syar'iyyah no. 208.

                     

                                   Pertanyaan: Kita                       melihat beberapa da'i dan pengikut mereka duduk-duduk atau                       bermajlis bersama orang-orang yang menyeru selain Allah,                       dan menyembelih  kepada selain Allah atau orang-orang yang                       mengerjakan syirik besar. Mereka tidak mengingkari orang                       yang mengerjakan syirik ini. Jika kami menegur mereka: "Mengapa                       kalian tidak menerangkan kepada mereka hukum syar'i                       tentang amalan mereka dengan penuh hikmah dan disertai                       pengajaran yang baik ?" Mereka akan menjawab: "Kami                       khawatir mereka akan lari dari kami, dengan demikian,                       berarti kami telah memecah belah shaf-shaf kaum muslimin.                       Kemudian mereka juga berkata: Kami diam dan tidak                       menjelaskan dan mengingkari perbuatan mereka dengan tujuan                       untuk menyatukan kaum muslimin. Karena, ketika Musa 'alaihissalam                       mengingkari perbuatan Harun 'alaihissalam yang                       diam terhadap amalan Bani Israil ketika mereka menyembah                       patung anak lembu, Harun berkata kepada Musa:
            
                      {                       ϻ̳ K³jM Á» Ë ½ÎÖAjmG ÏÄI ÅÎI O³j¯ ¾Ì´M ÆC OÎra ÏÃG}

                     

                                            Aku Khawatir bahwa kamu akan berkata                       kepadaku: Kamu telah memecah belah antarwa Bani Israil dan                       kamu tidak memelihara amanatku.

                     

                                            Apakah ucapan mereka itu benar ? Apakah                       dalil mereka dengan ayat itu telah sesuai pada tempatnya                       atau tidak ?

                     

                                            Jawab:

                     

                                                         Kalau kita ingin mengetahui                       pendalilan mereka itu. Maka, mari kita merujuk kembali                       pada konteks ayat pada surat Al-A'raf dan surat Thaaha.                      

                     

                                            Allah berfirman dalam surat Al-A'raf ayat                       150-151:

                     

                                            Á¸Ii j¿C                                              ÁN¼V§C Ðf¨I Å¿ ÏÃÌÀN°¼a BÀn×I ¾B³ B°mC ÆBJz« ɿ̳ Ó»G ÓmÌ¿ ©Ui BÀ» Ë}
                     
pCjI haC Ë `AÌ»ÞA Ó´»C Ë

                     

                                              { ÅÎÀYAj»A ÁYiC OÃC Ë ¹NÀYi ϯ BļaeA Ë                                               ÏaÞ Ë Ï» j°«A Li ¾B³...............

                     

                                            Dan tatkala Musa telah kembali kepada                       kaumnya dengan marah dan sedihhati berkatalah ia: "Alangkah                       buruknya perbuatan yang kalian kerjakan sesudah                       kepergianku ! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu                       ?" Dan Musa melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang                       (rambut) kepala saudaranya sambil menariknya ke arahnya.                       Harun berkata: "Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini                       telah menganggapku lemah dan hampir-hampir membunuhku,                       sebab itu jangnlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira                       melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam                       golongan orang-orang yang zalim". Musa berdoa: "Ya Tuhanku,                       ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam                       rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara                       para penyayang".

                     

                                            Dan firman Allah dalam surat Thaaha ayat                       88-94:

                     

                      Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka                       (dari lubang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara[1],                       maka mereka berkata: "Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa,                       tetapi Musa telah lupa". Maka apakah mereka tidak                       memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat                       memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi                       kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) memberi                       manfaat. Dan sesungguhnya Narun telah berkata kepada                       mereka sebelumnya: "Hai kaumku, sesunggyhnya kamu hanya                       diberi cobaandengan anak lembu itu dan sesungguhnya                       Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku                       dan taatilah perintahku". Mereka menjawab: "Kami akan                       tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali                       kepada kami". Berkata Musa: "Hai Harun, apa yang                       menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga)                       kamu tidak mengikuti aku ? Maka apakah kamu telah (sengaja)                       mendurhakai perintahku ?". Harun menjawab: "Hai putera                       ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan kepalaku;                       sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku):                       "Kamu telah memecah belah antara Baani Israil dan kamu                       tidak memelihara amanatku".

                     

Barang siapa yang merenungi keadaan Harun 'alaihissalam                       seperti yang tersebut dalam ayat tadi, maka akan jelas                       diketahui bahwa keadaannya sangat jauh berbeda dengan                       keadaan orang-orang seperti dalam pertanyaan diatas.                       Perbedaan itu ada dalam beberapa segi:

                     

                      1.                        Sesunguhnya Harun 'alaihissalam telah                       menasehati para penyembah patung anak lembu itu. Beliau                       telah mengingatkan mereka akibat yang akan menimpa mereka                       disebabkan amalan mereka tersebut. Ini sangat jelas                       diterangkan dalam Al-Quran. Seperti firman Allah:
                                                                                        
                                            { ½J³ Å¿ ÆËiBÇ ÁÈ» ¾B³ f´» Ë }

                     

                                            Dan sungguh Harun telah berkata kepada                       mereka sebelumnya.

                     

                      Yaitu, sebelum pulangnya Musa.
                                                                                                                      
                                            { ÉI ÁNÄN¯ BÀÃG }

                     

                                            Sesungguhnya kamu telah diberi cobaan                       dengan itu .

                     

                      Ada yang mengatakan bahwa kata ganti dalam                       ayat itu bermakna patung anak lembu dan ada pula yang                       mengatakan bahwa itu adalah Samiri.
                                                                                                              
                                            { ÅÀYj»A Á¸Ii ÆG Ë }

                     

                                            Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang                       maha Pemurah.

                     

                      Yaitu, Tuhan yang wajib kalian esakan                       dalam ibadah. Disebutkan dengan lafal Ar-Rahman agar                       mereka tidak putus asa untuk bertaubat kepada Allah.
                                                                                                     
                                            { Ðj¿C ĄÎ?C Ë ÏĄ̃JMB¯ }

                     

                                            Maka ikutilah aku dan taatilah                       perintahku.                      

                     

                      Yaitu, mengikuti beliau untuk mengesakan                       Allah dalam segala peribadatan dan meninggalkan peribatan                       kepada selain-Nya.
                                                                
                                            { ÓmÌ¿ BÄλG ©UjÍ ÓNY Åΰ·B§ Éμ§ `jJà Ż AÌ»B³ }

                     

                                            Mereka menjawab: "Kami akan tetap                       menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali                       kepada kami"

                     

                                            Yaitu, Kami akan tetap pada keadaan kami                       untuk menyembah patung anak lembu sampai Musa pulang.                       Apakah ia menyetujui atau mengingkari perbuatan kami ini.

                     

                                            Coba perhatikan penjelasan di atas !                       Apakah ada nasiahat dan kelembutan serta penjelasan yang                       lebih banyak lagi daripada yang telah dilakukan oleh Harun                       'alaihissalam ?

                     

                      2.                        Sesungguhnya Harun 'alaihissalam                       setelah menjelaskan apa yang menjadi kewajibannya kepada                       kaumnya, dan beliau melihat pembangkangan dan kelancangan                       mereka terhadapnya, dan Harun 'alaihissalam merasa                       takut akan tertimpa sesuatu terhadap dirinya. Kemudian,                       beliaupun diam.

                     

Ini telah dijelaskan dalam cuplikan ayat:                      
                                                                                                           
                                            {ÏÃ̰¨zNmA ÂÌ´»A ÆG }

                     

Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah.                      

                     

Maksudnya, karena sedikitnya orang yang menolongku dan                       kelancangan mereka terhadap diriku
                                                                                                          
                                            {ÏÄÃ̼N´Í AËeB· Ë }

                     

dan hampir saja mereka membunuhku.                      

                     

Ibnul 'Arabi telah berkata dalam kitab Ahkamul Quran                       (2/ 793): "Ayat ini menjadi dalil bahwasanya orang                       yang khawatir dibunuh ketika mencegah kemungkaran, agar                       diam."

                     

                      3.                        Firman Allah yang menceritakan penuturan Harun:         
                                                                                                     
                                            {ÕAf§ÞA ÏI OÀrM ݯ}
                     
Maksudnya, janganlah engkau membuat                       orang yang menyembah patung anak sapi itu gembira karena                       engkau mencelaku. Ini menunjukkan bahwasanya Harun                       memusuhi para penyembah patung itu.. Berbeda dengan orang                       yang disebutkan dalam pertanyaan di atas, mereka terkadang                       muncul rasa cinta kepada orang-orang yang berbuat syirik                       besar, bahkan mungkin saja mereka membela dan menyepelekan                       perbuatan kesyirikan, bahkan mungkin saja orang yang                       berbuat syirik menganggap benar perbuatan berdoa kepada                       selain Allah dengan dalih, bahwa amalan itu tidak                       dibungkam dan tidak dicegah.

                     

Sedangkan Harun 'alaihissalam, sangat jauh berbeda                       dengan mereka. Beliau telah berkata seperti yang                       difirmankan Allah:        &